Tampilkan postingan dengan label mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juni 2014

Malam Itu

14019137412037522792
Ilustrasi/ Kompasiana (Kompas.com)

malam itu
beberapa jenazah datang
dari kubur masalalu
seorang buruh puisi yang hilang di ladangnya sendiri
dan pemudi-pemuda yang dimuat diberbagai surat kabar
hilang belasan tahun silam
mendatangi segerombolan mahasiswa yang menenteng kardus
berlabel universitas ternama, mengemis di sepanjang jalan
menyanyikan lagu picisan, meneriakkan kata murahan
mereka saling berebut rupiah dengan waria, pengemis tua, gelandangan,
dan kaum papa
“selamat malam, mohon sedekahnya” kata mereka
malam itu
beberapa jenazah datang
maksud hati tak ingin kembali
tapi,
oh malangnya sungguh malang negeri ini
membuatnya ingin hidup kembali

image
Mahasiswa masa kini
image
mahasiswa masa lalu
Semarang, 3 Juni 2014


oleh:  Lenny Widyawati


Rabu, 15 Januari 2014

Segelas Kopi dan Setetesan Hujan

Hari itu, kau mungkin tak tahu.
Hujan turun deras di bumi yang dulunya tempat kakek-nenek bersenandung dengan kebaya dan baju lurik sederhana milik kami.
Menikmati aroma hujan yang menguar dari tanah.
Di sebuah kedai kopi kecil di sudut kota, melihat lampu kota yang temaram dari kejauhan.
Mematri bayangan-bayangan yang dulu sempat diciptakan di tengah tetesan hujan.
Mendengarkan suara radio di tengah gemericik air.
Memperhatikan tuan dan noni Belanda bertopi dan bermata biru bersliweran di jalanan.
Berharap-harap tak ada lagi sirine peringatan untuk bersembunyi.
Berharap-harap negeri kami segera bangkit
Berharap-harap pemuda negeri kami bersatu-padu melawan tuan-noni Belanda.
Berharap-harap, anak-anak pribumi dapat merasakan indahnya melukiskan aksara.
Berharap-harap, anak-anak kami kelak yang akan memimpin kami.
Berharap.

Kali ini, aku pun disini, beberapa dekade setelah masa itu berlalu.
Menikmati segelas kopi dan setetesan hujan yang turun.
Di kedai kopi yang sama dengan kedai yang sering kami kunjungi dulu.
Memperhatikan tatanan lampu kota yang benderang.
Kali ini, negeri kami telah merdeka dari tuan dan noni Belanda.
Kali ini, tak ada lagi sirine peringatan untuk bersembunyi.
Kali ini, tuan dan noni Belanda tak lagi bersliweran di jalanan.
Kali ini, anak pribumi bebas melukiskan rasanya melalui rangkaian aksara.
Kali ini, anak-anak kami telah menjadi pemimpin kami.

Dan kali ini, pemimpin kami lah yang giliran menjajah kami.

Oriza Wahyu Utami, 15 Januari 2014