Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juni 2014

Harapan

Sepanjang pesisir, jika ku lalui, takkan memecah jejak, kala ombak kian menepi. Pun kita tak pernah tahu, suara apa yang dibisikkan nyiur melambai ke selatan, hingga ombak enggan bertolak. 
Seberapa kencang angin menerpa? Seberapa keras ombak mengikis karang? Atau semua keheningan seperti ini sesungguhnya menyimpan dendam dan balas? 
Aku tak pernah berpikir tuk berteriak lantang kepada samudera, aku tak pernah  mengintip sedalam apa laut mendasar. Karena aku takut tenggelam untuk sebuah pertanyaan.
Mentari bersinar tak mampu sampai ke dasar laut, mengapa air mata mengorek luka begitu tajam? 
Tuhan.. 
Bila mentari lebih cepat terbenam di sini, jangan Kau dayungkan angin darat lebih cepat, karena langkahku di sepanjang pesisir belum usai terhapus. 
Bila langit dengan cepat berubah gelap dan panorama senja akan berakhir, jangan Kau gelapkan langkahku untuk kembali pulang.

Semua derit langit-langit bumi terdengar seperti gemuruh, dengkuran raksasa tua berselimut di antara awan. Hanya kala kita ingin meraba asa dan memetik bintang, awan-awan menghilang dan raksasa tua mengirim bidadari membentuk pelangi, melukis lukisan terindah yang pernah bumi lukiskan, melukis warna dari seluruh asa di tanah. Inilah harapan yang menjadi nyata setelah gemuruhnya.



oleh: Ninda Dian

Kamis, 03 April 2014

BUSUNG LAPAR




lihatlah, Tuan
perutku bagai gunung mengandung magma
buncitnya sampai merambah angkasa
Tubuhku tinggal tulang pilu dan segenggam daging busuk yang direjam
syahdan rasanya

tidakkah kau dengar, Tuan
kaleng-kaleng beras nyaring bunyinya
dan tangis bayi yang kau dengar sebagai kicauan
burung sikatan diakhir petang
mengencingi tenggorokannya sendiri

Intiplah Tuan,
saat musim hujan datang
Tubuhnya gigil, dengan sehelai rombeng membungkus kulit
pada wajahnya ada sepetak kulit yang di kapling
ditumbuhi berbagai jenis kerak, dan lelumutan
 raut wajahnya redup, habis di telan purnama tempo malam

Tuan, aku terdampar lunglai di bibir kemarau
Bukan karena haus merongrong kerongkongan
Atau cericit burung prenjak yang memanggil-manggil derita
Bukan pula karena matamu yang tersumpal bebatuan
Dan telingamu yang terganjal emas intan
Namun, ruh yang masih ingin hidup ini memangsa raganya sendiri.

L. Widy
Pati 3 Februari 2014

Sabtu, 18 Januari 2014

Cappuccino


Suatu sore di lantai dua sebuah Kafe di Tembalang. Seperti biasa aku memesan secangkir cappuccino panas. Belakangan aku memang lebih suka cappuccino daripada kopi-kopi lainnya. Pahit enak, manis juga enak.

Tak lama kemudian, cappuccino pesananku datang berserta kotak berisi gula, biskuit, dan sebuah sendok serta sebuah filosofi hidup.

Hidup itu seperti Cappuccino. Kita butuh gula sebagai pemanis, butuh biskuit sebagai pelengkap, dan kita butuh sendok supaya semua komponen cappucinno bersatu padu dan bisa dinikmati.

Biskuit bisa diibaratkan sebagai cinta. Dan gula bisa diibaratkan sebagai sahabat. Sedangkan sendok diibaratkan sebagai sikap kita.

Biskuit bisa saja habis sebelum cappuccino yang kamu minum habis, dan bisa juga habis bersama dengan tetes terakhir cappuccinomu. Begitu juga cinta, kamu bisa bertahan dengan satu biskuit untuk menghabiskan cappuccinomu, tapi kamu bisa saja menghabiskan banyak biskuit untuk satu cangkir cappuccino.

Lain halnya dengan gula, dia bisa membuat cappucinno jadi manis. Dan dia larut, jadi dia tidak mungkin meninggalkan cappucinno sendirian setelah dia memberi rasa manis.

Tapi gula tidak akan bisa membuat cappuccino manis kalau tidak ada sendok. Gula ada didekat cappucinno tapi tidak bisa tercampur. Begitu pula dengan persahabatan, kalau sikap kita benar, sahabat pasti bersedia ada buat kita, kita harus menjaga sikap supaya sahabat kita tidak pernah ragu untuk menemani kita, sampai cappucino kita habis.

Waktu itu aku hanya diberi sebuah biskuit, tapi sayangnya biskuit itu habis jauh sebelum cappucinnoku habis.

Oleh: F. Yumna